Ivory Bakery's Address

Kami menyediakan roti murah berkualitas. Kami juga menerima pesanan untuk roti murah. Kami adalah supplier roti dari salah satu airline terbesar di Indonesia. Hubungi kami: Lisa Widjaja di 02168416986 atau 0214528707. Alamat kami di: Boulevard Raya QJ 1 no. 5, Kelapa Gading, Jakarta Utara.





Showing posts with label Industri. Show all posts
Showing posts with label Industri. Show all posts

Thursday, March 1, 2012

Resesi Ekonomi Picu Kemerosotan Industri Restoran Amerika

Odi - detikFood

Resesi Ekonomi Picu Kemerosotan Industri Restoran Amerika
Foto: yumyarticle.com Jakarta - Resesi yang terjadi beberapa tahun terakhir di Amerika memberi pukulan keras industri restoran. Telah terjadi penurunan yang cukup drastis terhadap kunjungan konsumen di restoran sepanjang tahun 2008-2011 lalu.

Dampak resesi saat ini memukul keras industri restoran di seluruh Amerika. Menurut laporan dari NPD Group - perusahaan riset dan ritel konsumen - kunjungan konsumen restoran di negeri Paman Sam tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan. Berdasarkan data penelitian mereka, kunjungan konsumen sebesar 62,7 miliar pada tahun 2008 merosot menjadi 60,6 miliar di tahun 2011 silam.

Namun laporan tersebut juga menyebutkan bahwa beberapa jenis restoran mengalami nasib sedikit lebih baik. Mereka adalah jaringan restoran berbasis waralaba, meski keberuntungan mereka diperoleh dengan mengorbankan restoran-restoran yang berbasis independen. Menurut NDP Group restoran independen menyumbang sekitar 87% kerugian akibat rendahnya kunjungan konsumen selama tiga tahun terakhir.

Darren Tristano, selaku eksekutif VP Technomics sebuah perusahaan riset dan konsultan makanan mengatakan banyak perubahan yang terjadi di restoran yang melayani konsumen di wilayah demografi rendah dan menengah. Akibatnya tahun 2009 industri restoran waralaba meningkat dari 60% menjadi 61%. Sementara itu, persentase kunjungan konsumen ke restoran independen malah menyusut dari 28% menjadi 27%.

Menurut data NDP sejak tahun 2009, sekitar 7158 restoran independen telah ditutup. Pada periode yang sama, jaringan restoran waralaba bertumbuh sebesar 4511 unit. Analis NPD mengatakan bahwa, restoran milik independen yang berlokasi di daerah perkotaan besar bernasib relatif baik selama resesi. Sedangkan yang berlokasi di daerah sub urban dengan populasi lebih sedikit mengalami kerugian yang sangat besar.

"Operator restoran independen tidak memiliki uang atau sumber daya sebesar yang dimiliki restoran waralaba," ujar analis industri NPD restoran Bonnie Riggs seperti yang dilansir dari cnbc.com (27/2). "Mereka tidak memiliki kekuatan pemasaran untuk mengarahkan lalu lintas dan buffer moneter dalam melewati masa-masa sulit selama beberapa tahun terakhir ini."

Tristano menambahkan, salah satu alasan restoran waralaba tumbuh karena banyak pula pemilik restoran independen yang menutup restoran mereka. Kemudian mereka beralih membuka restoran dengan konsep waralaba.

"Para pemilik restoran banyak yang keluar dari bisnis, namun jika mereka tetap ingin memilih ingin berperan sebagai pemilik, mereka akan mengubah strategi dan bermain dalam bisnis restoran waralaba," jelasnya. "Bisnis ini adalah ruang yang nyaman bagi mereka, dan mereka tahu apa yang mereka hadapi."

(dev/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat

Saturday, January 14, 2012

Kawasan Industri Halal Pattani Siap Dibangun

Devita Sari - detikFood

Kawasan Industri Halal Pattani Siap Dibangun
Foto: thailandtriptour.com Jakarta - Pengusaha dan Kamar Dagang Thailand di kawasan selatan Thailand bermaksud untuk membangun kawasan industri halal di provinsi Pattani. Mereka berharap dapat merubah wilayah tersebut menjadi pusat makanan halal di Thailand.

Pengusaha lokal dari lima provinsi perbatasan selatan Thailand telah mendiskusikan persiapan mereka untuk membangun kawasan industri halal. Maksud tersebut mereka sampaikan kepada perwakilan dari Kamar Dagang Thailand serta Dewan Pengembangan Ekonomi dan Sosial Nasional.

Mereka berpendapat bahwa pemilik perusahaan harus diberikan dukungan dalam hal akuisisi investasi pinjaman, terutama sesuai syariah Islam. Selain itu juga diberi kesempatan untuk melakukan pengembangan lahan dan pemanfaatan lahan, baik dalam aspek logistik dan berbagai bisnis lainnya.

Seperti yang diketahui Thailand Selatan adalah rumah bagi mayoritas penduduk Muslim di negara itu. Sehingga para pengusaha melihat bahwa dengan membangun kawasan industri halal di kawasan tersebut akan sangat bermanfaat bagi perekonomian Thailand selatan.

Selama bertahun-tahun, banyak sekali penduduk setempat yang kesulitan untuk mencari pekerjaan dikarenakan kurangnya industri besar di wilayah tersebut. Namun, situasi ini diharapkan dapat berubah dengan munculnya kawasan industri halal. Sejumlah profesional, terutama yang memiliki keahlian baik dalam industri halal maupun ilmuwan yang paham halal kini dipekerjakan untuk merancang rencana tersebut.

Para peserta pertemuan juga mengatakan bahwa mendorong kawasan selatan sebagai pusat manufaktur makanan halal, tentunya akan sangat menguntungkan bagi Thailand. Mengingat seperempat dari populasi dunia adalah penduduk muslim.

(dev/dev)



Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com

View the original article here

Thursday, October 13, 2011

Industri Halal Singapura Meroket!

Devita Sari - detikFood

Industri Halal Singapura Meroket!
Foto: detikFood (ilustrasi) Jakarta - Produsen produk halal Singapura kini sedang berada di atas angin. Tak heran jika saat ini diperkirakan sertifikasi halal di Singapura mengalami peningkatan sebanyak 5 kali lipat dibandingkan dekade lalu.

Industri halal di negeri tetangga Singapura rupanya ikut merasakan manisnya bisnis halal. Diperkirakan jumlah sertifikasi halal mengalami peningkatan sebanyak lima kali lipat dibanding dekade lalu, yaitu sekitar 2650 sertifikasi halal. Jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah hingga 5000 sertifikasi halal di tahun 2015 nanti.

Banyaknya sertifikasi halal diperkirakan akibat pengaruh dari banyaknya industri yang masuk dan bermain di pasar halal untuk pangsa pasar muslim. Banyaknya respon akan pasar halal ini juga tidak membuat Islamic Religious Council of Singapore (MUIS) sebagai lembaga sertifikasi halal tinggal diam. MUIS pun terus berupaya untuk melakukan lebih dari sekedar sertifikasi halal.

Bahkan Spring Singapore dan International Enterprise Singapore serta beberapa partner bisnsi lain berencana akan membangun brand halal Singapura melalui pengembangan produk, perdagangan, dan bisnis konsultan. Bergairahnya bisnis halal tersebut dipicu oleh manisnya penghasilan yang direguk oleh pasar halal global yang diperkirakan mencapai 860 miliar dolar Singapura.

Menurut President MUIS, Alami Musa dengan memperoleh label halal perusahaan dapat meningkatkan pendapatan mereka mulai dari 20%-25%. Hal senada juga diungkapkan oleh Dr Yaacob Ibrahim, selaku Minister-in-charge of Muslim Affairs yang mengatakan bahwa peningkatan sertifikasi halal sebesar 5 kali lipat dalam 10 tahun terakhir ini juga mengalami peningkatan terutama di bidang pariwisata.

"Ini merupakan suatu tren yang positif, mengingat bahwa dua dari tiga pengunjung yang menghasilkan pasar di Singapura yaitu Indonesia dan Malaysia penduduknya didominasi oleh kaum muslim, tutup Dr Yaacob yang juga Menteri Informasi, Komunikasi dan Seni seperti yang dikutip dari The Straits Times.

(dev/Odi)


Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : iklan@detikfood.com ,
telepon 021-7941177 (ext.547 dan 609)

View the original article here

Wednesday, May 25, 2011

'INDHEX 2011' Perkuat Daya Saing Industri Dalam Negeri

Devita Sari - detikFood

'INDHEX 2011' Perkuat Daya Saing Industri Dalam Negeri
Foto: detikFood (ilustrasi) Jakarta - Event halal berskala internasional yang diselenggarakan oleh LPPOM MUI bakal segera digelar bulan Juni 2011. Tidak hanya memperkenalkan produk-produk halal kepada masyarakat luas. Produsen pun memperoleh kesempatan untuk meningkatkan daya saing antar industri lokal guna menghadapi pasar bebas.

Sehubungan dengan diselenggarakannya sebuah event halal berskala internasional pada 24-26 Juni 2011 mendatang. LPPOM MUI kemarin (23/05) menggelar konfrensi perss mengenai 'INDHEX 2011'. Ada pun salah satu latar belakang diselenggarakannya Indonesia Halal Expo 2011 atau INDHEX adalah untuk menggencarkan sosialisasi dan informasi tentang produk halal dan mendorong diberlakukannya Undang-Undang Jaminan Produk Halal (JPH).

Selain itu INDHEX juga mengusung misi yang tak kalah penting. Seperti yang dijelaskan oleh Direktur LPPOM MUI, Ir. Lukmanul Hakim, MSi., INDHEX 2011 merupakan salah satu agenda utama LPPOM MUI untuk mengukuhkan Indonesia sebagai pusat halal dunia. Selain itu, pameran tersebut juga dimaksudkan untuk memperkuat daya saing produk nasional, khususnya Usaha Kecil dan Menengah dalam menghadapi persaingan pasar bebas.

INDHEX 2011 direncanakan akan diikuti oleh ratusan produsen halal dari dalam dan luar negeri, lembaga sertifikasi halal dari berbagai negara serta pelaku bisnis dari berbagai daerah di Indonesia. Selain pameran produk halal, acara tersebut juga akan diramaikan dengan berbagai kegiatan, antara seminar internasional, diskusi dan konsultasi tentang halal, serta aneka macam hiburan dan lomba.

Event internasional ini juga dimaksudkan untuk menghadapi persaingan pasar bebas. Seperti diketahui, perdagangan internasional yang menganut sistem pasar bebas, seperti ACFTA (Asean-China Free Trade Area), Masyarakat Ekonomi Eropa (European Union), serta organisasi perdagangan internasional (World Trade Organization) telah mengintroduksi ketentuan mengenai pedoman halal sebagaimana tercantum dalam Codex Alimenterius (1997), yang didukung oleh organisasi internasional berpengaruh, antara lain World Health Organization (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO) of The United Nation dan World Trade Organization (WTO).

Dimana persaingan bebas tersebut juga harus diantisipasi melalui payung hukum bagi produk halal di dalam negeri. Seperti yang kita tahu, saat ini DPR-RI tengah menggodok Rancangan Undang-Undang Jaminan Produk Halal (RUU JPH). "LPPOM MUI tentu menyambut gembira upaya RUU tersebut, karena selama ini Indonesia belum memiliki payung hukum yang komprehensif mengenai produk halal," kata Lukmanul Hakim.

Keberadaan UU JPH selain dimaksudkan untuk memperkuat daya saing perusahaan dalam negeri juga merupakan kewajiban negara, sekaligus salah satu hak konstitusional warga Negara yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga keberadaan UU JPH sangat penting, baik bagi penguatan daya saing UKM dalam negeri maupun bagi perlindungan konsumen muslim di Indonesia

Rencananya INDEHEX 2011 akan dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Bapak Ir. Hatta Rajasa pada 24 Juni 2011. Sedangkan penutupannya akan dilakukan oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM, Bapak Syarif Hasan. Info lebih lanjut mengenai INDHEX silahkan menghubungi 021-3918917 atau info@halalmui.org.

(dev/Odi)


Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : iklan@detikfood.com ,
telepon 021-7941177 (ext.547 dan 609)

View the original article here