Ivory Bakery's Address
Thursday, March 29, 2012
Sunday, March 18, 2012
Nostalgia Hidangan Rumahan di Tjikini
Fitria Rahmadianti - detikFood
(dev)
Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com
Tuesday, March 6, 2012
Nostalgia Pecak Gurame Warisan Babe
Bondan Winarno - detikFood
Foto: Marchellinus Hanjaya Jakarta - Tiba-tiba saya rindu Babe Nasun – panggilan akrab untuk Haji Nasun yang punya warung di Srengseng Sawah, pinggiran Jakarta Selatan. Tiba di sana, sekitar pukul dua siang, ternyata warungnya hampir tutup. Semua masakan sudah habis tandas. Karena sudah datang dari jauh, saya putuskan untuk tetap singgah. Babe Nasun adalah seorang pengawal setia pusaka kuliner Betawi meski ia telah kembali ke hadirat Al Khalik beberapa waktu lalu.
Sebelum punya warung makan, Babe Nasun adalah pemain lenong. Orangnya lucu. Ia selalu menemui tamu-tamu yang ramai memenuhi warungnya. Gelak tawa selalu mewarnai warung di pinggir jalan itu. Babe Nasun adalah jenis orang yang selalu mampu menyentuh jiwa orang lain. A life toucher! Dalam tulisan saya sekitar enam tahun yang lalu, saya menyebut Babe Nasun sebagai human being – bukan human doing. Dia sangat menyukai pekerjaannya. Dia sangat bangga akan pekerjaannya. Dia tahu bahwa menyenangkan pelanggannya berarti juga menyenangkan dirinya.
Tidak heran bahwa masakan yang disajikan di warung makan ini berkualitas di atas rata-rata. Tempatnya boleh di pinggiran. Tetapi, karena kualitasnya tinggi, dan pelanggannya pun kebanyakan orang berduwit, Babe Nasun tidak sungkan pasang harga tinggi untuk sajiannya. Ada harga, ada rupa, ada rasa.
Sajian warung makan ini hanya terfokus pada tiga jenis masakan, yaitu: pecak gurame, gabus pucung, dan sop daging sapi. Cuma tiga, tetapi semuanya juara. Biasanya, saya memesan sop daging dan pecak gurame untuk dimakan di tempat, lalu membawa pulang gabus pucung untuk dimakan esok hari.
Pecak gurame adalah versi Betawi untuk pecel lele Jawa Timur-an – yaitu ikan goreng yang diguyur dengan sambal kacang pedas. Bedanya, sambal kacang untuk pecak Betawi ini dimasak dengan santan, sehingga lebih gurih. Pedasnya nonjok! Untuk membuatnya lebih istimewa, Babe Nasun mencampur kacangnya dengan kacang mede.
Gabus pucung adalah ikan gabus goreng yang dimasak lagi di dalam kuah pucung – lagi-lagi mirip masakan Jawa Timur-an yang disebut rawon. Pucung adalah kluwek dalam bahasa Betawi. Kuah encer legit ini memang sangat cocok untuk ikan gabus goreng yang gurih.
Sop daging sapinya juga suguhan juara. Dagingnya empuk, dalam porsi murah hati, dengan kuah segar yang sungguh gurih.
Karena Babe Nasun punya tanah yang ditanami berbagai pohon buah, ia selalu menyajikan buah-buahan di warungnya untuk para tamu. Gratis! Silakan makan buah-buahan sepuasnya. Buah yang selalu ada di sana adalah pisang. Di musim rambutan, para tamu disuguhi rambutan. Babe Nasun memperlakukan tamu di warungnya bagaikan tamu di rumahnya sendiri.
Meski Babe Nasun telah tiada, semoga Jakariya, keponakannya yang meneruskan "tongkat estafet" dapat mempertahankan warisan Babe Nasun. Kuliner Betawi is here to stay.
RM Betawi Haji Nasun
Jl. Moh. Kahfi II No. 21
Srengseng Sawah, Jagakarsa
Jakarta Selatan
021 7870016
(dev/dev)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com
Friday, February 17, 2012
Nostalgia Kelezatan Sop Buntut Legendaris Borobudur
Devita Sari - detikFood
Foto: dev/detikFood Jakarta - Nama Sop buntut legendaris Hotel Borobudur sudah tersohor sejak puluhan tahun silam. Kini tak hanya sop buntut, ada beragam variasi buntut, seperti rica, black pepper atau penyet. Disanding dengan kuah kaldu panas kecokelatan yang harum semerbak. Slurpp... gurih lezat!
Kalau Anda salah satu penggemar sop buntut tentunya sudah tak asing dengan Sop Buntut Hotel Borobudur yang legendaris. Kelezatan sop buntut yang disajiklan di Bogor Cafe sejak 1973 itu bahkan telah menjadi ikon dari Hotel Borobudur. Tak heran saat Sop Buntut Bogor Cafe dibuka tahun 2010 lalu di di salah satu sudut Pacific Place Mall, banyak penggemar yang menyambut gembira.
Menjelang makan siang cafe ini selalu dipenuhi pengunjung yang kebanyakan para pekerja kantoran. Nuansa cafe pun dibuat dengan interior khas, sepanjang dinding dipenuhi relief candi Barobudur dan gambar-gambar patung dari batu. Selain bisa menikmati hidangan di bagian dalam restoran, pengunjung juga bisa menempati area outdoor yang berisi sofa-sofa empuk yang merapat ke dinding.
Meski menghadirkan nuansa sedikit berbeda, namun Sop Buntut Bogor Cafe menjanjikan fasilitas dan rasa yang sama seperti saat bersantap di hotelnya. Tak tanggung-tanggung mulai dari hidangan sampai dengan para pelayan didatangkan langsung dari Hotel Borobudur. Para tamu tak bakal kecewa meski tak menikmati langsung di Bogor Cafe, Hotel Borobudur.
Di cafe ini hampir semua menu yang disajikan adalah buntut sapi. Salah satu andalannya Sop Buntut Legendaris yang disajikan dengan cara dibakar atau digoreng. Untuk menu istimewa ini bisa dipilih dalam tiga macam ukuran yaitu legendary (large), medium, dan small. Selain itu ada pula pilihan lainnya seperti Oxtail Nasi Goreng, Buntut Penyet, Buntut Rica Bakar, Buntut Cah Cabe Ijo, Buntut Black Pepper, dll.
Kalau sedang tidak ingin menikmati buntut sapi bisa juga memesan menu lainnya yang mungkin sudah tak asing lagi buat sering bersantap di Bogor Cafe, Hotel Borobudur. Ada Grilled Sirloin Steak, Prawn Sate with Honey Sauce, Cheese Chicken Cordon Blue, The Bogor Cafe Chef's Salad, dan masih banyak lainnya.
Kali ini saya sedang ingin mencoba menu yang agak beda, Buntut Bakar Rica dan Buntut Bakar Black Pepper. Khusus yang suka pedas bisa memesan Buntut Penyet yang diberi topping sambal rawit merah yang dijamin bakal menyetrum lidah. Untuk setiap menu buntut disajikan berupa dua potong buntut, sapi emping, sayuran, nasi, dan jeruk nipis. Kuah kaldunya disajikan dalam mangkok terpisah.
Buntut Bakar Rica disajikan dalam piring putih lebar, komplet dengan sayuran dan taburan emping yang royal. Dua buah buntut yang berukuran cukup besar, disajikan dengan topping sambal kemerahan. Wuih... sungguh menggiurkan! Berbeda dengan Buntut Black Pepper yang disajikan dengan balutan saus lada hitam dan taburan irisan paprika hijau dan merah serta bawang bombay. Khusus untuk Buntut Black Pepper ini disajikan tanpa kuah kaldu sop.
Buntutnya sangat empuk, daging tebalnya mudah diloloskan dari tulang. Lemak-lemak tipis yang melekat di daging membuat rasanya sedikit juicy memberikan aksen gurih saat disantap. Sambal ricanya juga cukup mengigit. Kalau kurang pedas atau terlalu pedas tinggal menambahkan sambal atau kecap manis yang sudah tersedia di atas meja. Acar timun yang segar membuat rasa sop buntut ini makin komplet.
Kuahnya kadunya bening berwarna kecokelatan dengan genangan irisan tomat dan daun bawang. Aroma pala dan kayu manis yang harum sangat semerbak. Hmm... sungguh membuat lidah menari-nari mengenang kelezatan sop buntut legendaris ini. Jika perut belum kekenyangan bisa juga mencoba dessert ice cream atau cake lezat dari Hotel Borobudur seperti tiramisu, black forest, atau chocolate truffle.
Buat yang ingin bernostalgia sop buntut legendaris ini kelezatan rasanya bisa ditebus seharga Rp 68.000,00 - Rp 98.000,00. Buat yang ingin take away sop buntut ini sebagai oleh-oleh juga bisa, karena sudah disediakan box eksklusif untuk dibawa pulang.
Sop Buntut Bogor Cafe
Managed by Hotel Borobudur Jakarta
Pacific Place Mall, Level 5-57 SCBD
Jl. Jendral Sudirman Kav.52-53
Jakarta Selatan
Telp: 021-57973238
(dev/Odi)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com
Saturday, October 22, 2011
Roti Sisa, Dessert Nostalgia dari Prancis
- detikFood
Foto: dessertfordinner.blogspot.com Jakarta - Dessert yang satu ini rasanya sangat lezat. Dibuat dari roti sisa seperti soft roll, baguette, atau white bread yang disiram saus yang khas. Meskipun dari bahan sisa, roti yang berlumuran saus ini legit dan enak lho!
Di Perancis terdapat sebuah dessert yang disebut dengan Pain Perdu yang kalau diterjemahkan bearti French toast. Dessert tersebut sangat populer di daerah Prancis selatan dan sering disajikan saat Paskah. Namun secara harafiah, perdu pain juga bisa diartikan sebagai 'ruin bread' alias roti sisa.
Pain perdu sebenarnya merupakan dessert klasik sejak jaman dahulu kala. Roti ini memang sudah menjadi bagian dari keseharian orang Prancis membuat makanan yang satu ini hampir ada setiap harinya. Namun seringkali roti ini sisa alias tidak habis dimakan. Oleh karena itu para orang tua jaman dahulu menyiasatinya dengan membuatnya sebagai sajian dessert.
Biasanya roti sisa yang dipakai adalah bagian bawah soft roll, white bread, brioche atau baguette. Keistimewaan dessert ini terletak pada saus topping-nya. Sausnya memakai susu, mentega, telur, dan sedikit gula yang dikocok menjadi satu.
Roti ini kemudian dipanaskan sebentar di atas wajan hingga agak kecokelatan kemudian disiram dengan saus mentega tersebut. Seiring waktu dessert manis ini juga sering ditambahkan saus pelengkap lainnya, termasuk es krim yang membuat rasanya makin enak. Tak heran kalau pain perdu menjadi favorit anak-anak.
Kini camilan ini menjadi dessert nostalgia bagi masyarakat Prancis. Makanan ini juga mengajarkan kita agar menghargai makanan dengan cara mengolahnya menjadi sesuatu yang lezat. Seperti kata orang Prancis bilang "la respect de pain" yang mengajak semua orang untuk menghargai roti.
(dev/Odi)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : iklan@detikfood.com ,
telepon 021-7941177 (ext.547 dan 609)
Wednesday, June 22, 2011
Nostalgia Rasa Khas Bojonegoro
Plux - detikFood
Foto: Plux Jakarta - Bojonegoro adalah sebuah kota kecil di Jawa Timur. Kota penghasil tembakau dan kayu jati ini menyimpan kenangan tersendiri buat aku. Ya, dikota kecil ini aku belajar mencecap masakan sedari kecil sehingga rasa 'Bojonegoro' telah menyatu dalam lidahku.
Liburan tahun lalu aku sempat berkunjung ke kota ini setelah bertahun - tahun aku tinggalkan. Dan tentu saja kesempatan menikmati makanan khas kota ini sudah pasti tak akan terlewatkan. Sedari pagi sengaja menahan lapar hanya untuk bernostalgia dengan nasi pecel khas kota ini. (aku berangkat jam 4 pagi dari Malang)
Nasi pecel dengan bumbu kacang yang di tumbuk halus dan berwarna merah ini menduduki peringkat pertama nasi pecel paling enak yang pernah aku santap, hmm... Sayang sekali tak sempat merekam gambar nasi pecel ini karena mata dan lidah sudah sepakat untuk melahap makanan ini pada pandangan pertama dihidangkan.
Jika nasi pecel menjadi santapan di pagi hari, bakwan campur menjadi pilihan santapan di siang hari. Bakwan ini pula yang mengobati rasa rindu rasa 'Bojonegoro'. Campuran mie gepeng, tahu isi, siomay dan tentu saja penthol bakso membuat rasa kangen akan makanan ini terobati. Suhu udara yang panas di kota ini tak menyurutkan nafsu makanku. Dan 2 mangkok pun ludes saat itu plus beberapa porsi untuk dibawa pulang. (Ini doyan apa rakus ya? Hehehe)
Kenangan pun kembali ke belasan tahun yang silam. Kala itu disaat aku sakit, hidangan ini menjadi pilihan untuk disantap. Dan pada saat sakit pun aku doyan makan dengan catatatan menunya bakwan ini.
Beralih dari bakwan ada satu makanan lagi yang aku buru saat berada di kota ini. Kerupuk abang ijo, kerupuk dengan warna merah, kuning, hijau dan putih. Kerupuk ini mempunyai rasa yang khas 'Bojonegoro'.
Pabrik kerupuk ini terletak tak jauh dari klenteng di Jl. Jaksa Agung Suprapto. Dan pemilik pabrik kerupuk ini adalah teman mama sekolah dulu, tepatnya teman SD hahaha. Di tempat ini aku mencuri dengar obrolan mama dengan temannya yang sampai sekarang meneruskan usaha orang tuanya. Wow, usaha turun temurun ini mungkin telah dimulai sejak 60 tahun yang lalu.
Pada saat aku berkunjung ke tempat ini, kesibukan karyawan pabrik ini sedang berlangsung. Demikian pula pembeli datang dan pergi silih berganti. Rata - rata pembeli yang datang ke sini pulang dengan membawa kerupuk dalam plastik berukuran besar untuk dijual kembali. Harganya pun cukup murah, dijual dalam satuan kilogram dan satu kilogram terdiri dari puluhan kerupuk.
Rasa khas dari kerupuk ini tak tergantikan oleh modernisasi jaman, mungkin karena cara menggorengnya masih tradisional, menggunakan sekam sebagai media bahan bakar. Dan rasa dari kerupuk ini menuntaskan rasa kangenku akan rasa 'Bojonegoro'.
Sampai jumpa di petualangan lidah berikutnya
Bakwan, Jl. WR Supratman 33, Bojonegoro Telp. 0353 - 882804
Kerupuk (abang ijo), Jl. Jaksa Agung Suprapto (Seberang Klenteng), Bojonegoro
Salam,
Plux
(eka/Odi)
Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : iklan@detikfood.com ,
telepon 021-7941177 (ext.547 dan 609)