Ivory Bakery's Address

Kami menyediakan roti murah berkualitas. Kami juga menerima pesanan untuk roti murah. Kami adalah supplier roti dari salah satu airline terbesar di Indonesia. Hubungi kami: Lisa Widjaja di 02168416986 atau 0214528707. Alamat kami di: Boulevard Raya QJ 1 no. 5, Kelapa Gading, Jakarta Utara.





Showing posts with label Jerman. Show all posts
Showing posts with label Jerman. Show all posts

Friday, April 6, 2012

Ada Pohon Telur Paskah Tumbuh di Jerman!

Odilia Winneke - detikFood

google_ad_client = 'ca-pub-6880533263535234'; google_ad_channel = '4958278774'; google_ad_width = 200; google_ad_height = 400; google_ui_version = 1; google_ad_slot = '3695403116'; google_override_format = 'true'; google_ad_type = 'text_html'; google_tl = 3; google_font_face = 'arial'; google_font_size = 'small'; google_tfs = 12; google_color_link = '#11593C'; google_color_text = 'E1771E'; google_color_bg = '#FFFFFF'; google_color_border = '#FFFFFF'; google_color_url = '#CCCCCC';Ada Pohon Telur Paskah Tumbuh di Jerman!
Foto: Associated Press Jakarta - Telur paskah biasa dipakai untuk menghiasi meja, dekorasi rumah atau makanan saat hari raya Paskah. Namun, yang satu ini sebuah berisi telur paskah. Ya, telur paskah tumbuh bersama pohonnya dan menghampar warna-warni!

Pohon telur paskah milik Volker Kraft terletak di Saafeld, Jerman Timur. Pohon ini dihiasi 10.000 butir telur paskah. Tahun 1965 Kraft mulai menghiasi 1 buah pohon di kebunnya dengan 18 telur paskah.Pada tanggal 21 Maret lalu Kraft mulai menambah hiasan pada pohon telurnya.

Dari tahun ke tahun jumlahnya terus bertambah hingga mencapai 9.800 butir. Telur yang dipasang di pohon di dalam halamannya dihiasi dengan pernak-pernik dan kulit kerang sehingga sangat cantik. Selain itu warna-warnanya sangat memikat.

Seperti dilansir CBSnews kini Kraft sudah mencapai jumlah 10.000 telur paskah dan berencana menghentikan kegiatannya. 'Tak akan saya tambah lagi karena sudah tak ada tempat buat menyimpan cangkang telur-telurnya. Kalau tidak saya bakalan tidur bersama telur-telur,' demikian tutur Kraft yang berusia 76 tahun ini.

Pohon telur paskah Kraft di Saalfeld menjadi atraksi turis, bahkan jumlahnya mencapai ribuan tiap tahun. Cangkang telur yang dipasang di pohon ini dibiarkan tumbuh bersama pohonnya. Setiap tahun ditambah mengikuti pertumbuhan pohonnya. Setiap paskah, masyarakat Jerman punya tradisi menghias telur paskah tetapi dalam jumlah kecil.

Sepuluh tahun pertama Kraft mulai memakai cangkang telur dari plastik namun lama kelamaan ia mengubahnya dengan memakai cangkang telur asli. Tentu saja ia harus mengerahkan keluarga besarnya membantu menghias telur-telur paskahnya.

'Sekarang sudah bisa dinikmati apa yang saya mulai 47 taun silam. Ketika pohon tumbuh, istri dan anak-anak mulai menghias telur paskah, tuturnya.

(Odi/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Hubungi kami:
Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media partner: promosi[at]detik.com
Pemasangan iklan: sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat

Saturday, February 18, 2012

Sauerkraut Beku Sebabkan Kemacetan Parah di Jerman

Fitria Rahmadianti - detikFood

Sauerkraut Beku Sebabkan Kemacetan Parah di Jerman
Foto: modernchivaree.blogspot.com Jakarta - Sauerkraut adalah salah satu makanan tradisional Jerman. Terbuat dari irisan kubis yang difermentasi oleh bakteri lactic acid hingga rasanya asam. Belum lama ini, tumpahan sauerkraut di jalan membuat kemacetan parah.

Berdasarkan berita yang dilansir Reuters, peristiwa ini terjadi pada Selasa (7/2) saat jam sibuk di pagi hari. Sebuah truk pengangkut ratusan bungkus sauerkraut bertabrakan dengan kendaraan lain di Friedberg, dekat Frankfurt. Isinya pun bertumpahan ke jalan.

Karena suhu saat itu di bawah nol derajat, sauerkraut yang jatuh segera menjadi es. Kendaraan bermotor tidak bisa lewat, hingga menyebabkan kemacetan sepanjang 10 km selama 4 jam. Pihak yang berwenang berusaha keras membersihkan jalanan dari sisa-sisa tabrakan dan acar kubis beku tersebut.

“Jalanan harus diberi garam agar sauerkraut bisa diangkat,” ujar seorang polisi, seperti dikutip dari Metro.co.uk.

(Odi/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat

Sunday, February 12, 2012

Mengintip 6000 Tahun Sejarah Roti di Museum Roti Jerman!

Odi - detikFood

Mengintip 6000 Tahun Sejarah Roti di Museum Roti Jerman!
Foto: www.monkeysandmountains.com Jakarta - Mulai dari sejarah perkembangan sereal, hingga hadirnya roti bisa diintip di museum ini. Kesemuanya tersaji dalam bentuk karya seni, mulai dari patung hingga lukisan. Ada pula berbagai oven pemanggang roti berusia ratusan tahun. Wah, seru ya?

Museum unik ini didedikasikan bagi roti yang sejak 6000 tahun lalu telah hadir menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan peradaban manusia. Pendirinya adalah warga asal Jerman, Willy Eiselen dan putranya Hermann Eiselen. Keduanya memang bekerja sebagai manufaktur dan penjual bahan-bahan untuk toko roti yang cukup besar.

Ayah dan anak tersebut mendirikan Museum Roti Jerman pada tahun 1955. Namun pameran permanen yang diadakan di museum tersebut baru diselenggarakan tahun 1960. Kala itu, Museum Roti Jerman merupakan yang pertama menyajikan sesuatu yang unik.

Pada tahun 1991 kepemilikannya berpindah ke Eiselen Foundation, selaku badan amal independen. Sejak itu pula museum roti itu berpindah ke Salzstadel, sebuah gudang tua bersejarah di pusat kota Ulm, Jerman. Sejak berpindah lokasi museum ini makin berkembang dan tahun 2004 merayakan pengunjung ke satu juta mereka. Tahun 2005 saat Museum Roti genap berusia 50 tahun, dibuatlah pameran display permanen dengan tema baru.

Koleksi museum ini sendiri terdiri dari 18.000 objek, dimana 700 diantaranya merupakan display permanen yang ada di museum. Tetapi, jangan harap dapat menemukan display roti seperti di toko roti di tempat ini. Menurut sang pendiri, museum roti ini bukanlah museum artefak. Tetapi roti adalah makanan yang harus disajikan fresh setiap hari.

Oleh karena itu, dalam museum ini para pengunjung hanya dapat melihat sejarah cara-cara pembuatan roti yang terus berubah-ubah dari tahun ke tahun. Dimana sejarah tersebut dituangkan lewat foto-foto, patung, lukisan, dan karya seni lainnya. Selain itu mengilustrasikan pula sisi sosial dan budaya dari sejarah roti.

Di lantai 1 ada pula sejarah perkembangan gandum hingga menjadi roti. Ketika 6000 tahun lalu saat perkembangan sereal hingga dapat diolah menjadi roti. Pengunjung juga bisa melihat miniatur para pekerja di toko roti jaman dahulu. Museum Roti ini dibuka untuk umum dan tutup setiap hari Senin. Sepulang dari Museum Roti, para pengunjung dapat mampir ke toko roti yang tersebar di dekat museum. Asyik ya?

(dev/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat

Thursday, February 2, 2012

Gara-gara Berbahasa Jerman Diusir dari Pub

Odi - detikFood

Gara-gara Berbahasa Jerman Diusir dari Pub
Foto: www.dailymail.co.uk Jakarta - Seorang mantan penjaga Tower of London, Tom Sharp, diusir dari sebuah pub karena berbahasa Jerman. Peristiwa tersebut berlangsung minggu lalu, ketika ia mengunjungi Packhorse Pub bersama Nichole Falconer, putrinya.

Pria 71 tahun tersebut sedang asyik berbicara dengan anaknya, yang berdarah setengah Jerman, keturunan dari sang ibu. Dalam percakapan tersebut, beberapa kali mereka menggunakan istilah Jerman yang memang sudah biasa mereka gunakan.

Tiba-tiba pengelola pub, Janet Pitts, menghampiri mereka. Ia mengatakan, jika anak dan ayah tersebut masih menggunakan bahasa Jerman dalam pembicaraannya, mereka diminta keluar dari pub.

Mendengar teguran Pitts, jelas Sharp dan Falconer kebingungan. Bagi Falconer, bahasa Jerman adalah bahasa ibu yang biasa ia pergunakan sehari-hari. Tidak aneh jika ada satu dua kata terselip dalam pembicaraannya bersama sang ayah.

Falconer tak habis pikir, karena pengelola pub marah-marah mendengar pembelinya berbahasa Jerman, padahal ia tak mengerti artinya. Saat itu, Pitts mengatakan, Falconer adalah orang berkulit putih, berada di Inggris, jadi ia harus berbicara bahasa Inggris. Bagi Falconer, kata-kata tersebut begitu menghina.

Sebenarnya, Sharp adalah pelanggan tetap yang sering datang ke Packhorse Pub. Biasanya, ia datang sekitar jam 4 sore. Sebagai pelanggan, Sharp tak segan untuk menyumbangkan lukisannya untuk menjadi bagian dari dekorasi Packhorse Pub. Namun setelah kejadian tidak menyenangkan itu terjadi, lukisan-lukisan tersebut dikembalikan lagi padanya.

Tuan Sharp bertemu dan menikah dengan istrinya, Anni, di Jerman. Saat itu, Sharp adalah seorang tentara. Ketika putrinya Falconer berusia 14 tahun, barulah mereka sekeluarga kembali lagi ke Inggris. Di Inggris, ia bertugas menjaga Tower of London selama 20 tahun.

Kejadian tersebut dilaporkan sebagai kejahatan ras, dan kini sedang ditangani oleh polisi. Sementara itu, Packhorse Pub telah ditutup.

(Odi/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat

Gara-gara Bebahasa Jerman Diusir dari Pub

Odi - detikFood

Gara-gara Berbahasa Jerman Diusir dari Pub
Foto: www.dailymail.co.uk Jakarta - Seorang mantan penjaga Tower of London, Tom Sharp, diusir dari sebuah pub karena berbahasa Jerman. Peristiwa tersebut berlangsung minggu lalu, ketika ia mengunjungi Packhorse Pub bersama Nichole Falconer, putrinya.

Pria 71 tahun tersebut sedang asyik berbicara dengan anaknya, yang berdarah setengah Jerman, keturunan dari sang ibu. Dalam percakapan tersebut, beberapa kali mereka menggunakan istilah Jerman yang memang sudah biasa mereka gunakan.

Tiba-tiba pengelola pub, Janet Pitts, menghampiri mereka. Ia mengatakan, jika anak dan ayah tersebut masih menggunakan bahasa Jerman dalam pembicaraannya, mereka diminta keluar dari pub.

Mendengar teguran Pitts, jelas Sharp dan Falconer kebingungan. Bagi Falconer, bahasa Jerman adalah bahasa ibu yang biasa ia pergunakan sehari-hari. Tidak aneh jika ada satu dua kata terselip dalam pembicaraannya bersama sang ayah.

Falconer tak habis pikir, karena pengelola pub marah-marah mendengar pembelinya berbahasa Jerman, padahal ia tak mengerti artinya. Saat itu, Pitts mengatakan, Falconer adalah orang berkulit putih, berada di Inggris, jadi ia harus berbicara bahasa Inggris. Bagi Falconer, kata-kata tersebut begitu menghina.

Sebenarnya, Sharp adalah pelanggan tetap yang sering datang ke Packhorse Pub. Biasanya, ia datang sekitar jam 4 sore. Sebagai pelanggan, Sharp tak segan untuk menyumbangkan lukisannya untuk menjadi bagian dari dekorasi Packhorse Pub. Namun setelah kejadian tidak menyenangkan itu terjadi, lukisan-lukisan tersebut dikembalikan lagi padanya.

Tuan Sharp bertemu dan menikah dengan istrinya, Anni, di Jerman. Saat itu, Sharp adalah seorang tentara. Ketika putrinya Falconer berusia 14 tahun, barulah mereka sekeluarga kembali lagi ke Inggris. Di Inggris, ia bertugas menjaga Tower of London selama 20 tahun.

Kejadian tersebut dilaporkan sebagai kejahatan ras, dan kini sedang ditangani oleh polisi. Sementara itu, Packhorse Pub telah ditutup.

(Odi/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat