Ivory Bakery's Address

Kami menyediakan roti murah berkualitas. Kami juga menerima pesanan untuk roti murah. Kami adalah supplier roti dari salah satu airline terbesar di Indonesia. Hubungi kami: Lisa Widjaja di 02168416986 atau 0214528707. Alamat kami di: Boulevard Raya QJ 1 no. 5, Kelapa Gading, Jakarta Utara.





Showing posts with label Perang. Show all posts
Showing posts with label Perang. Show all posts

Wednesday, April 4, 2012

Perang Bir Non Alkohol Kian Memanas di Jepang

Odi - detikFood

google_ad_client = 'ca-pub-6880533263535234'; google_ad_channel = '4958278774'; google_ad_width = 200; google_ad_height = 400; google_ui_version = 1; google_ad_slot = '3695403116'; google_override_format = 'true'; google_ad_type = 'text_html'; google_tl = 3; google_font_face = 'arial'; google_font_size = 'small'; google_tfs = 12; google_color_link = '#11593C'; google_color_text = 'E1771E'; google_color_bg = '#FFFFFF'; google_color_border = '#FFFFFF'; google_color_url = '#CCCCCC'; Perang Bir Non Alkohol Kian Memanas di Jepang
Foto: cosbysweaters Jakarta - Bir non alkohol memang bukan jenis minuman baru di Jepang. Sejak tahun 2008, bir non alkohol populer di kalangan mereka yang tidak minum alkohol. Laba yang tinggi membuat persaingan antar merek bir non alkohol pun kian memanas.

Siapa yang tidak mengenal bir? Meskipun tak semua orangsuka minuman yang mengandung alkohol ini, namun kepopuleran bir sudah tersebar di seluruh dunia. Jepang merupakan salah satu negara dengan konsumsi bir yang cukup tinggi dan memiliki banyak produsen bir besar.

Beberapa merek bir non alkohol yang ada di Jepang adalah Kirin Free, Asahi W-Zero, Suntory All Free dan Sapporo Premium Alcohol Free. Kirin Brewery Corp adalah salah satu perusahaan Jepang yang berhasil meluncurkan bir non alkohol yang dikenal dengan nama 'Kirin Free'. Minuman yang memiliki rasa seperti bir dengan kadar alkohol 0% ini dilucurkan bulan April 2009 silam.

Arashi W-Zero diproduksi oleh perusahaan bir Arashi Breweries Ltd. Para pesaing kuat lainnya adalah Suntory All Free dan Sapporo Premium Alcohol Free. Selain mengklaim mengandung kadar alkohol 0%, beberapa bir non alkohol tersebut juga mengandung nol kalori. Di awal penjualannya tahun 2008, bir non alkohol masih normal namun setiap tahunnya penjualan jenis minuman ini semakin meningkat.

Seperti yang dilansir dari japantoday.com, sejak tahun 2008 penjualan bir non alkohol meningkat sebanyak 12 kali lipat di tahun 2011. Tak heran jika kini banyak perusahaan bir alkohol yang mulai melirik bir non alkohol. Perusahaan ini awalnya menetapkan target penjualan tahunan sebesar 630.000 kasus. Pada bulan Oktober, perkiraan mereka telah meningkat menjadi 3,5 juta kasus.

Begitu pula yang dialami oleh Suntory Liquors Ltd yang membekukan penjualan sekitar 70% di atas target yang mereka perkirakan. Sapporo Breweries yang termasuk pemain baru dalam produk bir non alkohol meluncurkan produknya pada 16 Maret 2011. Dalam beberapa bulan saja Sapporo Premium Alcohol Free telah berhasil mencapai target penjualannya meskipun mengalami saat-saat sulit setelah terjadinya gempa di wilayah tersebut.

Diperkirakan ada beberapa alasan kesuksesan bir non alkohol di luar perkiraan para perusahaan bir. Selain menargetkan konsumen yang tidak mengkonsumsi minuman beralkohol, adanya peraturan larangan berkendara setelah meminum minuman beralkohol mnedorong konsumen memilih bir non alkohol. Faktor gaya hidup juga ikut mempengaruhi populernya bir non alkohol.

Para produsen pun tidak melewatkan kesempatan tersebut. Setelah sukses memasuki pasar Jepang, tahun 2012 kini mereka mulai membidik pasar asing seperti Asia, Amerika, dan Eropa. Kirin contohnya, perusahaan bir tersebut mulai mempopulerkan merek 'Ichiban Shibori' untuk memasuki pasar Singapura, Thailand, dan Vietnam. Sedangkan Suntory bersiap membidik pasar Russia, Amerika, dan New Zealand.

(dev/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Hubungi kami:
Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media partner: promosi[at]detik.com
Pemasangan iklan: sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat

Monday, March 5, 2012

Prajurit Veteran Perang Pun Belajar Menjadi Koki

Dyah Oktabriawatie - detikFood

Prajurit Veteran Perang Pun Belajar Menjadi Koki
Foto: msnbc.com Jakarta - Prajurit veteran dan tentara militer bekerja membela negara di medan perang. Sekelompok prajurit yang mengalami cedera berkumpul untuk belajar memasak. Kini mereka beralih profesi menjadi seorang koki di Amerika.

Julio Gerena adalah salah seorang dari 16 anggota veteran yang kakinya terluka. Saat perang di Irak dan Afganistan ia mengikuti sebuah pelatihan memasak yang diselenggarakan oleh Wounded Warrior Project. Selain itu Genera juga belajar merebus dan menumis dengan benar di Culinary Institute of American yang terkenal di Hudson River.

Para veteran belajar beberapa tips memasak, dan mereka begitu menikmatinya kesempatan belajar memasak bersama prajurit lainnya. “Ada beberapa hal yang tidak bisa dimasukkan dalam program Wounded Warrior seperti persahabatan dan kepercayaan,” ujar Genera.

Sebuah oraganisasi di Jacksonville, Florida menjalankan sebuah program veteran dengan membawa para prajurit veteran yang terluka saat perang untuk belajar memasak. Sebagian besar peserta pernah bertugas di Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Udara. Rata-rata mereka mengalami cedera tulang belakang.

Selama empat hari mereka diberikan materi penting, mulai dari cara memegang pisau sebelum mulai mengolah makanan menjadi sajian makan siang dan malam. Pada pagi hari terakhir, para veteran bersiap untuk membakar ikan salmon dan menumis ayam yang dibimbing oleh Profesional Chef, John DeShetler.

Pada kelas memasak itu, Chef DeShetler memberikan tips mengiris wortel dan memotong daging. Saat chef memasuki dapur, seorang prajurit bernama Steve Bohn, 24 tahun, berhasil membuat tumisan jamur dengan daging cincang yang kaya bumbu dipancinya.

Bohn adalah seorang warga Peabody di Essex County, Massachusetts, Amerika Serikat. Saat perang di Afganistan ia terluka parah karena kena ledakan bom dan ia menderita luka tulang belakang yang cukup parah hingga menjalani operasi kandung kemih. Kini Bohn tidak membutuhkan penjepit kaki, namun ia masih sedikit kesulitan saat berada di dapur.

Para veteran yang mengikuti kelas memasak ini dalam beberapa tim harus bekerja sama untuk membuat masakan yang berbeda dengan menyajikan menu seimbang. Mereka harus bisa membuat makanan yang lezat dan sehat.

(Odi/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat