Ivory Bakery's Address

Kami menyediakan roti murah berkualitas. Kami juga menerima pesanan untuk roti murah. Kami adalah supplier roti dari salah satu airline terbesar di Indonesia. Hubungi kami: Lisa Widjaja di 02168416986 atau 0214528707. Alamat kami di: Boulevard Raya QJ 1 no. 5, Kelapa Gading, Jakarta Utara.





Showing posts with label Kucing. Show all posts
Showing posts with label Kucing. Show all posts

Saturday, March 3, 2012

Wouww...Cupcake si Kucing Gendut Garfield

Odilia Winneke - detikFood

Wouww...Cupcake si Kucing Gendut Garfield
Foto: Bakerella Jakarta - Bulan Juni nanti tokoh komik Garfield akan memasuki usia 30 tahun. Seorang ahli kuepun bereksperimen membuat Comic Cupcakes. Kali ini Garfield tokoh favoritnya yang menjadi sasaran kreasinya. Hasilnya, lucu dan menggemaskan!

Tokoh kucing gendut yang manja dan kadang konyol ini merupakan tokoh komik goresan John Davis. John sendiri selalu hadir dalam komiknya dan bernteraksi jenaka dengan sang kucing. Tak ketinggalan dengan aneka tokohnya, Dad, Nermal, Odie dan Poky.

Untuk membuat cupcake ini tak jauh beda dengan cupcake biasa. Untuk kuenya dipakai sponge cake kemudian dilapisi fondant yang diberi warna sesuai dengan tokohnya. Dilengkapi dengan telinga hidung dan mata.

Yang membuat karakter ini jadi menarik karena kumis dan corak badan Garfiled bersama teman-temannya dilukis dengan tinta yang bisa dimakan (edible ink). Gourmet Writer Food Decorator Pens, Assorted Colors ini dijual di berberapa toko online dengan harga sekitar Rp. 150.000,00 untuk 10 warna.

Bentuknya persis seperti spidol atau ballpoint biasa. Cara pemakaiannya juga seperti pena biasa. Sentuhan tinta ini membuat Garfield terlihat lucu dan hidup. Oleh Bakerella cupcakes Garfiled bersama teman-teman ini juga dikirimkan ke John Davis sang komikus pencipta Garfield. Tentu saja diterima dengan senang hati. Buktinya John mengirimkan surat terima kasihnya pada Bakerelle.

(Odi/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat

Monday, February 20, 2012

Seorang Pria Dijerat Hukum Karena Berniat Makan Kucing

Flora Febrianindya - detikFood

Seorang Pria Dijerat Hukum Karena Berniat Makan Kucing
Foto: www.news.brunei.fm Jakarta - Kisah mengejutkan datang dari California. Salah seorang warganya ditangkap karena diduga membunuh, memanggang dan akan memakan daging kucing. Hal ini diketahui oleh tetangganya yang langsung menghubungi pihak keamanan.

Ulah Jason Wilmert, seorang warga Oildale, California diketahui oleh tetangganya, Joe Nuno. Mulanya, Nuno mendengar suara kucing yang berteriak sangat kencang dari rumah tetangganya. Nuno yang juga pecinta hewan pun merasa penasaran dengan suara kencang yang ia dengar.

Betapa terkejutnya Nuno, ketika ia melihat Wilmert sedang memegang ekor kucing dan mengulitinya dalam kondisi masih hidup. Kucing tersebutpun mengeong kencang sambil meronta-ronta. Tak hanya sampai di situ, Wilmert kemudian memanggang kucing tersebut di atas api, dan mengeluarkan aroma yang aneh dan mengerikan.

Sang tetangga pun kemudian menghubungi pihak keamanan setempat. Menurut juru bicara keamanan setempat, Ray Pruitt, Wilmert memang berniat untuk menjadikan kucing sebagai makanannnya.

Hingga beberapa saat setelah kejadian, pihak keamanan belum menerima laporan warganya yang kehilangan kucing peliharaan. Wilmer pun dicurigai menggunakan kucing liar untuk melakukan aksinya.

Karena perbuatannya, pria 36 tahun tersebut dikenakan tuduhan melakukan kekerasan terhadap hewan dan menjadikan hewan peliharaan sebagai bahan makanan. Michael Yraceburn, Deputy District Attorney, mengatakan bahwa sejak tahun 1989 sudah diberlakukan peraturan yang melarang konsumsi hewan peliharaan.

Wilmert dikenakan pasal pidana ringan, dan wajib membayar uang jaminan sebesar Rp.67.709.000. Ia juga dikenakan hukuman 30 hari penjara di Kern County. Wilmert pun dilarang memelihara hewan selama 3 tahun dan harus menjalani sesi konsultasi dengan pakar kesehatan mental.

(Odi/Odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.

Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com

Roti sehat harga hemat

Wednesday, May 25, 2011

Nasi Kucing Suguhan Para Priyayi

Bondan Winarno - detikFood

Nasi Kucing Suguhan Para Priyayi
Foto: Bondan Winarno Yogyakarta - Beberapa bulan terakhir ini, anak-anak muda Yogyakarta akan merasa sangat "gaul" kalau sudah berhasil menginjakkan kaki ke kafe yang satu ini: The House of Raminten. Tidak heran bila Raminten selalu ramai dari pagi hingga malam. Bahkan, semakin malam semakin gayeng.

Raminten adalah alter-ego dari Mas Hamzah, pemilik kafe ini, yang popularitasnya di Yogya sudah melebihi selebritas. Mas Hamzah juga memiliki Batik Mirota yang laris-manis karena pendekatan marketing-nya yang hebat. Di sebuah stasiun TV lokal, Mas Hamzah memerankan Raminten dan makin ramai dikenal orang.

The House of Raminten adalah sebuah rumah gedongan di daerah elite Yogyakarta dengan arsitektur kolonialis-tropis awal abad ke-20, yang kemudian "disulap" menjadi kafe. Sebagian tamu bisa duduk di kursi, sebagian lagi duduk lesehan - cara kongkow khas Yogyakarta. Untuk menguatkan nuansa rumah lawas, dekorasi kafe ini juga dibuat djadoel (djaman doeloe). Ada papan dengan tulisan sama yang diletakkan di beberapa sudut strategis, berbunyi: "Kami ini semua lulusan SLB. Kalo agak lama harap maklum karena kami kenthir."

Tidak paham? Ini memang guyonan yang cultural-bound. Kalau bukan orang Jawa, agak sulit memahaminya. SLB adalah Sekolah Luar Biasa - yaitu sekolah untuk para tuna grahita. Kenthir adalah colloquial dalam budaya keseharian orang Jawa untuk menyebut orang yang kurang waras. Ya, namanya juga olok-olok. Untungnya para pengurus SLB tidak memprotes papan warning ini.

The House of Raminten agaknya memang "dibangun" dengan konsep lucu-lucuan bagi kaum muda Yogyakarta. Dengan kata lain, silakan serap dulu folklorik Yogyakarta, maka Anda baru akan bisa menikmati lucunya The House of Raminten.

Kostum para pramusaji-nya pun mengikuti konsep lucu-lucuan itu. Mirip pakaian adat masa lalu, tetapi dengan sentuhan modis. Tidak ketinggalan aksesori alat komunikasi tanpa kabel untuk meneruskan pesan langsung ke dapur - teknologi yang tentunya ikut memberi sentuhan mengejutkan bagi para tamu Raminten.

Daftar menu-nya juga lucu. Sate lilit disebut satelit. Mendoan ditulis mendoang. Hotstone steak diterjemahkan menjadi maheso selo gromo. Memang, banyak juga yang harus melewati proses kernyit dahi beberapa menit sebelum paham maknanya. Apa itu sego kucing single tante? Lalu, kalau double/triple pakte apa pula? Bagusnya, ditawarkan dengan harga terjangkau. Steak "cuma" Rp 20 ribu. Berbagai wedang dibandrol Rp 3-9 ribu. Ada juga berbagai jamu godog.

Sajian populer Raminten adalah sego kucing - sekepal nasi dengan sambal dan sejumput lauk - yang harganya antara Rp 1-3 ribu. Tentu saja, karena pengunjungnya bukan kucing, melainkan anak-anak priyayi, sego kucing harus didampingi lauk-pauk yang dijual terpisah. Ada berbagai macam sate (Rp 2-4 ribu per tusuk) - seperti: ayam, ati-ampla, usus ayam, telur burung puyuh, kerang, paru-paru sapi, dan lain-lain.

Selain sego kucing, sajian populer Raminten adalah mi goreng, nasi goreng, bubur ayam, dan nasi liwet. Pokoknya, sajian murah-meriah yang cocok untuk lesehan sambil gojegan, dengan latar belakang klenengan Jawa. Ada juga beberapa tamu yang datang sendiri dan menikmati kesendiriannya bersama fasilitas WiFi untuk mengunduh email sambil "cuci mata". Ah, siapa tahu nanti ada mahasiswi bening yang bakal menyapa. He he he.

The House of Raminten
Jl. F.M. Noto 7
Kota Baru, Yogyakarta
0274 547315

Sajian populer Raminten adalah sego kucing

(dev/Odi)


Tutup

You are redirected to Facebook

You are redirected to Facebook

loading Sending your message

You are redirected to Lintas Berita

loading Sending your message

Post this to your WordPress blog:


loading Sending your message

Post this to your Blogger blog:


loading Sending your message

loading Sending your message

Share to your Yahoo Mail contacts


loading Sending your message

loading Sending your message

Import Your Yahoo Messenger contacts


Share to your Yahoo Messenger contacts


loading Sending your message

Import Your Google Talk contacts


Share to your Google Talk contacts


loading Sending your message

Import Your Live Messenger contacts


Share to your Live Messenger contacts


loading Sending your message


Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : iklan@detikfood.com ,
telepon 021-7941177 (ext.547 dan 609)

View the original article here