Ivory Bakery's Address
Wednesday, April 11, 2012
Saturday, March 31, 2012
Nikmatnya Kepala Kakap Racikan si Abah
Devita Sari - detikFood
google_ad_client = 'ca-pub-6880533263535234'; google_ad_channel = '4958278774'; google_ad_width = 200; google_ad_height = 400; google_ui_version = 1; google_ad_slot = '3695403116'; google_override_format = 'true'; google_ad_type = 'text_html'; google_tl = 3; google_font_face = 'arial'; google_font_size = 'small'; google_tfs = 12; google_color_link = '#11593C'; google_color_text = 'E1771E'; google_color_bg = '#FFFFFF'; google_color_border = '#FFFFFF'; google_color_url = '#CCCCCC';
Foto: dev/detikFood Jakarta - Restoran yang satu ini memang tergolong unik karena menyajikan hidangan dari ranah Melayu-Riau. Ada otak-otak Melayu yang unik, pucuk pakis, sampai kepala ikan kakap asam pedas yang lemak nian. Dimakan langsung dengan tangan wuihh... makin nikmat rasanya!
Restoran ini memang cukup unik dan sedikit berbeda dengan restoran dan rumah makan yang berderet di sepanjang jalan Pesanggrahan. 'Kedai Abah' - seperti namanya - mengusung hidangan tradisional dari ranah Melayu-Riau. Saat masuk saya pun disambut dengan langit-langit kayu yang tinggi dan meja-meja kayu yang besar berjejer hingga ke sudut ruangan. Ruangan tersebut dibingkai dengan jendela-jendela kayu yang lebar - persis seperti rumah khas Melayu jaman dulu.
Menu berbahan dasar ikan seperti ikan patin, ikan kakap, ikan nila, ikan bawal dan ikan gurame banyak mendominasi buku menu. Khusus untuk gulai dan asam pedas kepala ikan rupanya menjadi menu andalan tak boleh dilewatkan. Oleh karena itu saya pun memesan sepersi kepala kakap asam pedas. Untuk asam pedas ini sengaja saya memesan khusus tanpa memakai santan. Selain itu kami juga memesan seporsi ayam spesial dan pucuk pakis. Sedangkan cakwe seafood goreng dipesan sebagai hidangan pembuka.
Tanpa dipesan sang pelayan menyodorkan seporsi otak-otak hangat. Otak-otak Melayu ini berbeda dari yang pernah saya santap. Pantas saja bungkusnya beda, tidak dari kulit pisang melainkan dari daun kelapa. Selain itu ukurannya juga tipis memanjang dengan isian berwarna oranye dengan bahan dasar ikan yang dicampur langsung dengan bumbunya. Tekstur otak-otak ini sedikit lebih liat dengan cocolan saus sambal encer dan bumbu kacang encer yang menciptakan sensasi gurih pedas.
Untuk cakwe seafood sendiri langsung jadi rebutan. Apalagi cakwe dengan isian adonan cacahan udang ini makin enak saat disantap hangat-hangat. Bagian luarnya sedikit garing kontras dengan bagian dalamnya yang empuk. Namun, agar perut tidak kekenyangan sengaja kami tidak menghabiskannya.
Kepala kakap asam pedas yang mengepul dalam piring lebar langsung menyita perhatian kami. Kuahnya berwarna semburat kemerahan sungguh membangkitkan selera. Si kepala ikan ini makin harum menggoda karena dilengkapi daun kemangi dan tomat hijau.
Sengaja saya menyantapnya langsung menggunakan tangan, agar daging di sela-sela tulang kepala ikan dapat terjangkau. Sesekali mulut asyik juga menghisap-hisap gurihnya tulang-tulang kepala ikan. Asam pedas kuahnya yang kemerahan juga sueger... membuat mata merem melek keenakan. Untuk meredam bibir yang merah kepedasan, segelas jagung sari kelapa yang segar meluncur di tenggorokan. Minuman ini terdiri dari daging kelapa yang dicampur dengan jagung manis.
Pucuk pakis yang krenyes crunchy dengan sensasi belachan yang jadi pendaping si kepala kakap juga nyaris tak bersisa. Sedangkan ayam spesial yang dibalut tepung cukup unik dan bumbunya meresap hingga ke dalam. Jika, perut belum kekenyangan karena si kepala ikan tentulah seporsi ayam tersebut bakal habis tak bersisa.
Seporsi kepala ikan kakap asam pedas dihargai Rp 88.000,00, ayam spesial Rp 28.000,00 dan Rp 16.800,00 untuk pucuk pakis. Porsinya yang cukup besar untuk tiap sajian memang paling pas jika disantap beramai-ramai. Penggemar kepala ikan, silahkan mampir mencicipi racikannya si Abah!
Kedai Abah
Jl. Pesanggrahan Raya No.80
Kebon Jeruk
Jakarta Barat
Telp: 021-5890 7223/5890 7224
(dev/dev)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Hubungi kami:
Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media partner: promosi[at]detik.com
Pemasangan iklan: sales[at]detik.com
Tuesday, February 14, 2012
Sop Kakap Mak Nyuss di Mal Ambassador
Bondan Winarno - detikFood
Foto: Bondan Winarno Jakarta - Mal Ambassador mungkin adalah salah satu dari sekian mal yang paling banyak disatroni kelas pekerja di Jakarta. Khususnya tiap jam makan siang, para pekerja dari gedung-gedung di sekitar daerah ini berbondong-bondong datang ke sini. Berbagai tempat makan siang pun langsung penuh dan ramai. Surprise, surprise, surprise, ternyata di sini juga ada satu restoran yang menghidangkan masakan Tionghoa bermutu. Namanya: Wan Toe.
Wan Toe menawarkan menu yang sangat lengkap: ayam, bebek, sapi, berbagai seafood (ikan, udang, kepiting, cumi), bahkan juga masakan vegetarian. Menilik harga-harga di daftar menu, Wan Toe tampaknya mengambil sasaran kalangan menengah ke atas. Tidak terlalu mahal, tetapi juga tidak terlalu murah.
Pilihan saya untuk makan siang bersama seorang teman adalah: bebek panggang, sop ikan kakap, kepiting soka goreng, tomio cah, dan nasi hainan. Ditambah minuman dan pajak, total bill kami berdua untuk makan siang yang memuaskan ini sedikit di bawah Rp 300 ribu.
Bebek panggangnya masih menampilkan lemak yang tebal. Melihat ukuran dan teksturnya, ketara sekali bahwa bebeknya impor. Kualitasnya setara dengan beberapa restoran sekelasnya. Terus terang, bila lemaknya lebih tiris dengan cara memanggang yang lebih baik, bebek panggang ini akan naik kelas.
Sop ikan kakapnya istimewa. Ini adalah cara masak orang Hakka. Daging kakap di-dust dengan tepung kering, lalu digoreng dengan minyak panas. Dimasak lagi dalam kaldu ayam, sawi asin, dan lobak, dengan berbagai bumbu minimalis, lalu diakhiri dengan angkak (tape beras merah) yang memberi sentuhan khas. Di berbagai restoran lain, sop semacam ini biasanya disajikan dengan gurame. Pilihan kakap di Wan Toe membuatnya lebih istimewa. Mak nyuss!
Kepiting lemburi – biasa disebut juga sebagai kepiting soka, yaitu kepiting muda yang sedang berganti kulit, sehingga dapat dimakan seluruhnya – digoreng dan dibumbui dengan telur asin. Cara masak seperti ini memang sedang populer. Verdict: top markotop! Wajib dipesan.
Nasi hainan dan tomio cah bawang putihnya juga berkualitas di atas rata-rata. Kesimpulan saya: Wan Toe punya jurumasak yang dapat diandalkan. Pesanan yang cepat datang juga mencerminkan kesigapan para jurumasak di dapur.
Di daftar menu masih tampak berbagai makanan yang pasti akan saya pesan dalam kunjungan berikutnya. Misalnya: bakkuteh iga sapi. Secara nomenklatur sebetulnya ini salah. Bakkut mengacu pada iga babi. Tetapi, karena Wan Toe ingin menjangkau khalayak yang lebih luas, di sini masakan sederhana yang segar dan lezat ini dihadirkan dengan memakai bahan-bahan halal.
Ikan gindara goreng yang dipesan meja sebelah pun sempat menerbitkan air liur saya. Hanya digoreng dan di-finish dengan kecap asin tipis, tetapi penampilan dan aromanya sungguh menggiurkan.
Wan Toe juga mempunyai beberapa ruang untuk private dining. Juga tersedia layanan antar bagi mereka yang tidak sempat keluar kantor untuk makan siang.
Wan Toe
Mal Ambassador
Lantai 1, No. 46-49
Kuningan, Jakarta Pusat
021 5763101
www.wantoeresto.com
(dev/Odi)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com
Monday, February 13, 2012
Sop Kakap Mak Nyuss di Mal Ambassador
Bondan Winarno - detikFood
Foto: Bondan Winarno Jakarta - Mal Ambassador mungkin adalah salah satu dari sekian mal yang paling banyak disatroni kelas pekerja di Jakarta. Khususnya tiap jam makan siang, para pekerja dari gedung-gedung di sekitar daerah ini berbondong-bondong datang ke sini. Berbagai tempat makan siang pun langsung penuh dan ramai. Surprise, surprise, surprise, ternyata di sini juga ada satu restoran yang menghidangkan masakan Tionghoa bermutu. Namanya: Wan Toe.
Wan Toe menawarkan menu yang sangat lengkap: ayam, bebek, sapi, berbagai seafood (ikan, udang, kepiting, cumi), bahkan juga masakan vegetarian. Menilik harga-harga di daftar menu, Wan Toe tampaknya mengambil sasaran kalangan menengah ke atas. Tidak terlalu mahal, tetapi juga tidak terlalu murah.
Pilihan saya untuk makan siang bersama seorang teman adalah: bebek panggang, sop ikan kakap, kepiting soka goreng, tomio cah, dan nasi hainan. Ditambah minuman dan pajak, total bill kami berdua untuk makan siang yang memuaskan ini sedikit di bawah Rp 300 ribu.
Bebek panggangnya masih menampilkan lemak yang tebal. Melihat ukuran dan teksturnya, ketara sekali bahwa bebeknya impor. Kualitasnya setara dengan beberapa restoran sekelasnya. Terus terang, bila lemaknya lebih tiris dengan cara memanggang yang lebih baik, bebek panggang ini akan naik kelas.
Sop ikan kakapnya istimewa. Ini adalah cara masak orang Hakka. Daging kakap di-dust dengan tepung kering, lalu digoreng dengan minyak panas. Dimasak lagi dalam kaldu ayam, sawi asin, dan lobak, dengan berbagai bumbu minimalis, lalu diakhiri dengan angkak (tape beras merah) yang memberi sentuhan khas. Di berbagai restoran lain, sop semacam ini biasanya disajikan dengan gurame. Pilihan kakap di Wan Toe membuatnya lebih istimewa. Mak nyuss!
Kepiting lemburi – biasa disebut juga sebagai kepiting soka, yaitu kepiting muda yang sedang berganti kulit, sehingga dapat dimakan seluruhnya – digoreng dan dibumbui dengan telur asin. Cara masak seperti ini memang sedang populer. Verdict: top markotop! Wajib dipesan.
Nasi hainan dan tomio cah bawang putihnya juga berkualitas di atas rata-rata. Kesimpulan saya: Wan Toe punya jurumasak yang dapat diandalkan. Pesanan yang cepat datang juga mencerminkan kesigapan para jurumasak di dapur.
Di daftar menu masih tampak berbagai makanan yang pasti akan saya pesan dalam kunjungan berikutnya. Misalnya: bakkuteh iga sapi. Secara nomenklatur sebetulnya ini salah. Bakkut mengacu pada iga babi. Tetapi, karena Wan Toe ingin menjangkau khalayak yang lebih luas, di sini masakan sederhana yang segar dan lezat ini dihadirkan dengan memakai bahan-bahan halal.
Ikan gindara goreng yang dipesan meja sebelah pun sempat menerbitkan air liur saya. Hanya digoreng dan di-finish dengan kecap asin tipis, tetapi penampilan dan aromanya sungguh menggiurkan.
Wan Toe juga mempunyai beberapa ruang untuk private dining. Juga tersedia layanan antar bagi mereka yang tidak sempat keluar kantor untuk makan siang.
Wan Toe
Mal Ambassador
Lantai 1, No. 46-49
Kuningan, Jakarta Pusat
021 5763101
www.wantoeresto.com
(dev/Odi)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : sales[at]detik.com
Thursday, August 18, 2011
Kepala Kakap Racikan si Abah
Devita Sari - detikFood
Foto: dev/detikFood Jakarta - Restoran yang satu ini memang tergolong unik karena menyajikan hidangan dari ranah Melayu-Riau. Ada otak-otak Melayu yang unik, pucuk pakis, sampai kepala ikan kakap asam pedas yang lemak nian. Dimakan langsung dengan tangan wuih... makin nikmat rasanya!
Mencari tempat berbuka di bulan puasa terkadang memberi kesenangan tersendiri. Tetapi pilihan tempat berbuka kali ini berawal dari ketidaksengajaan. Berhubung tak lama lagi adzan maghrib akan berkumandang, restoran bergaya rumah panggung yang unik ini akhirnya jadi pilihan. Restoran ini memang cukup unik dan sedikit berbeda dengan restoran dan rumah makan yang berderet di sepanjang jalan Pesanggrahan.
'Kedai Abah' - seperti namanya - mengusung hidangan tradisional dari ranah Melayu-Riau. Saat masuk saya yang datang bersama kedua orang teman, disambut dengan langit-langit kayu yang tinggi dan meja-meja kayu yang besar berjejer hingga ke sudut ruangan. Ruangan tersebut dibingkai dengan jendela-jendela kayu yang lebar - persis seperti rumah khas Melayu jaman dulu.
Menu berbahan dasar ikan seperti ikan patin, ikan kakap, ikan nila, ikan bawal dan ikan gurame banyak mendominasi buku menu. Khusus untuk gulai dan asam pedas kepala ikan rupanya menjadi menu andalan tak boleh dilewatkan. Oleh karena itu saya pun memesan sepersi kepala kakap asam pedas. Untuk asam pedas ini sengaja saya memesan khusus tanpa memakai santan. Selain itu kami juga memesan seporsi ayam spesial dan pucuk pakis. Sedangkan cakwe seafood goreng dipesan sebagai hidangan pembuka.
Perhatian saya segera tersita dengan adzan maghrib yang berkumandang. Alhamdulillah, segelas es teh manis hangat pun membilas tenggorokan yang kering. O ya, di Kedai Abah ini juga tersedia tempat sholat bagi pengunjung loh. Jadi tak perlu khawatir!
Tanpa dipesan sang pelayan menyodorkan seporsi otak-otak hangat. Otak-otak Melayu ini berbeda dari yang pernah saya santap. Pantas saja bungkusnya beda, tidak dari kulit pisang melainkan dari daun kelapa. Selain itu ukurannya juga tipis memanjang dengan isian berwarna oranye dengan bahan dasar ikan yang dicampur langsung dengan bumbunya. Tekstur otak-otak ini sedikit lebih liat dengan cocolan saus sambal encer dan bumbu kacang encer yang menciptakan sensasi gurih pedas.
Untuk cakwe seafood sendiri langsung jadi rebutan. Apalagi cakwe dengan isian adonan cacahan udang ini makin enak saat disantap hangat-hangat. Bagian luarnya sedikit garing kontras dengan bagian dalamnya yang empuk. Namun, agar perut tidak kekenyangan sengaja kami tidak menghabiskannya.
Kepala kakap asam pedas yang mengepul dalam piring lebar langsung menyita perhatian kami. Kuahnya berwarna semburat kemerahan sungguh membangkitkan selera. Si kepala ikan ini makin harum menggoda karena dilengkapi daun kemangi dan tomat hijau.
Sengaja kami menyantapnya langsung menggunakan tangan, agar daging di sela-sela tulang kepala ikan dapat terjangkau. Sesekali mulut asyik juga menghisap-hisap gurihnya tulang-tulang kepala ikan. Asam pedas kuahnya yang kemerahan juga sueger... membuat mata merem melek keenakan. Untuk meredam bibir yang merah kepedasan, segelas jagung sari kelapa yang segar meluncur di tenggorokan. Minuman ini terdiri dari daging kelapa yang dicampur dengan jagung manis.
Pucuk pakis yang krenyes crunchy dengan sensasi belachan yang jadi pendaping si kepala kakap juga nyaris tak bersisa. Sedangkan ayam spesial yang dibalut tepung cukup unik dan bumbunya meresap hingga ke dalam. Jika, perut belum kekenyangan karena si kepala ikan tentulah seporsi ayam tersebut bakal habis tak bersisa.
Seporsi kepala ikan kakap asam pedas dihargai Rp 88.000,00, ayam spesial Rp 28.000,00 dan Rp 16.800,00 untuk pucuk pakis. Porsinya yang cukup besar untuk tiap sajian memang paling pas jika disantap beramai-ramai. Penggemar kepala ikan, silahkan mampir mencicipi racikannya si Abah!
Kedai Abah
Jl. Pesanggrahan Raya No.80
Kebon Jeruk
Jakarta Barat
Telp: 021-5890 7223/5890 7224
(dev/Odi)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : iklan@detikfood.com ,
telepon 021-7941177 (ext.547 dan 609)