Ivory Bakery's Address
Sunday, September 1, 2013
Little Italy Chicken Pitas
Monday, September 3, 2012
Piroszhki (Little Russian Pastries)
Thursday, August 9, 2012
The Little Arab of Cikini
Bondan Winarno - detikFood
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook google_ad_client = 'ca-pub-6880533263535234'; google_ad_channel = '4958278774'; google_ad_width = 200; google_ad_height = 400; google_ui_version = 1; google_ad_slot = '3695403116'; google_override_format = 'true'; google_ad_type = 'text_html'; google_tl = 3; google_font_face = 'arial'; google_font_size = 'small'; google_tfs = 12; google_color_link = '#11593C'; google_color_text = 'E1771E'; google_color_bg = '#FFFFFF'; google_color_border = '#FFFFFF'; google_color_url = '#CCCCCC';
Foto: Bondan Winarno Jakarta - Di mana sih Kampung Arab-nya Jakarta? Ternyata, luasnya Jakarta Raya ini membuat satu Kampung Arab saja tidak cukup. Di Jakarta Timur ada kawasan Cawang-Condet yang ramai dihuni kaum jamaah. Di Jakarta Pusat, mereka kebanyakan bermukim di sekitar Tanahabang. Tetapi, sejak lama pula ruas Jalan Raden Saleh di Jakarta Pusat merupakan "pusat" hunian kaum keturunan Arab. Bukankah Raden Saleh sendiri yang dulu mempunyai puri (mansion) di jalan itu adalah juga seorang ningrat dari kalangan ini?
Maka, tidaklah mengherankan bila di sepanjang jalan ini dapat dijumpai beberapa rumah makan dan restoran yang khusus menyajikan masakan Arab. Beberapa nama lama masih bertahan di sini, sekalipun sudah muncul pula restoran baru dengan dekor maupun eksterior yang lebih mewah dan modern.
Favorit saya di sini adalah Rumah Makan Almira. Ini gara-gara dulu saya pernah ditraktir Mas Harun Musawa yang ketika itu memang berkantor di dekat sana juga. Almira adalah sebuah rumah makan sederhana, tetapi dengan citarasa Arabia yang autentik. Saya bahkan pernah membungkus nasi briyani untuk oleh-oleh bagi almarhum Husein Mutahar – pencipta ode "Syukur" dan beberapa lagu nasional lain – yang juga dikenal sebagai seorang lekkerbek (epicurian, pedoyan makan). Seingat saya, komentarnya ketika itu adalah: "Kurang sedikiiiit. Harusnya pakai acar nanas, supaya lebih ng-Arab." Semoga Kak Mut bahagia bersama Allah di surga.
Nasi briyani-nya (Rp 35 ribu) memang istimewa. Sekalipun tidak memakai beras basmati (yang mahal karena harus di-impor), nasi kebuli Almira bumbunya nancep di lidah. Kekuatan Almira memang pada bumbunya yang intens. Kalau tidak salah observasi, rumah makan ini dimiliki oleh keturunan Arab dari Jawa Timur. Karena itu di sini juga ada sop kikil (Rp 35 ribu) yang khas Kampung Ampel – kampungnya kaum keturunan Arab di Surabaya.
Satu porsi nasi briyani disajikan dengan beberapa potong kambing goreng yang juga sangat gurih dan empuk. Kondimennya adalah sambal tomat-seledri dan acar timun-tomat yang bernuansa asam-manis. Top markotop!
Selain nasi briyani yang juara, juga ada nasi bukhari – juga sering disebut sebagai nasi khabsah – yaitu nasi yang dimasak dengan bumbu dan berbasis tomat. Nasi goreng kambingnya juga berkualitas di atas rata-rata nasgorkam favorit Jakarta lainnya. Favorit lain di antara kaum Arab yang menjadi pelanggan rumah makan ini adalah marakh alias sop kambing (Rp 35 ribu) yang dimakan dengan roti hobus.
Sate kambing dan kambing goreng Almira juga dapat diandalkan. Tidak doyan kambing? Rugi besar. Tetapi, oke-lah. Anda juga dapat memesan ayam goreng atau gado-gado di sini. Jangan lupa, minuman pendampingnya yang khas adalah kopi jahe.
Tidak hanya menjual makanan. Di halaman belakang yang menghadap ke Jalan Raden Saleh I, Almira juga menyediakan tempat yang nyaman dan teduh untuk mengisap pipa air (shisha) berbagai citarasa dan aroma. Juga ada sebuah toko kecil yang menjual berbagai suvenir dari Timur Tengah. Bila Anda suka madu Yaman – the best in the world – Anda dapat membeli di sini dengan harga Rp 250 ribu per botol. Saya suka almond disangrai sebentar, kemudian dikucuri sedikit madu Yaman.
Cikini di Gondangdia. Mampir sini, cicipi kebuli Almira!
RM Almira
Jl. Raden Saleh 6B
Jakarta Pusat
021 3161494
(dev/gst)
Berbagi tempat makan favorit Anda, raih voucher makan dan wisata kuliner ke Makassar GRATIS. Detail bisa dilihat disini.
Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Hubungi kami:
Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media partner: promosi[at]detik.com
Pemasangan iklan: sales[at]detik.com
Wednesday, October 12, 2011
Mutton Qorma Little India
Bondan Winarno - detikFood
Foto: Bondan W Bali - Dulu, warung kecil ini dikenal dengan nama Warung Nasi Goreng. Dimiliki dan diawaki oleh orang-orang Jawa Timur asal Nganjuk. Nasi gorengnya menjadi kecintaan wisatawan nusantara maupun wisatawan asing yang cekak koceknya. Maklum, nasi goreng termasuk comfort food yang disukai banyak orang.
Ketika saya singgah lagi ke sana, we ladalah, kok sudah bermetamorfosa menjadi Little India? Tetapi, lho, kok orang-orang yang mengawakinya masih sami mawon?
Ternyata, warung ini memang baru saja bersalin nama. Pemiliknya sama, awaknya pun sama. Menunya dimekarkan. Sekarang mewakili kuliner dari tiga negara: Indonesia, Thai, dan India. Artinya, nasi goreng tetap tersedia dan dapat dipesan di sini. Pilihan nama Little India tentulah untuk sebuah maksud agar menu India-nya menjadi tujuan tamu mampir ke situ.
Orang Barat menamakan tempat kecil sederhana seperti ini dengan istilah: a whole in the wall. Saking kecilnya! Nasi goreng dan makanan Thai dibuat a la minute – artinya: setiap ada pesanan, baru dibuat. Beberapa jenis makanan India sudah siap saji, dan tinggal dihangatkan.
Kali ini saya pilih masakan India. Naan (roti), daal (sup lentil), mutton qorma (kari kambing manis), dan aloo ghobi (kari kentang dan kembang kol). Naan-nya dibuat a la minute. Sekalipun digoreng di wajan – tidak di dalam gentong tandoori – tetapi rasa dan teksturnya boleh tahan. Juga tersedia garlic naan bila dikehendaki.
Daal-nya sip markusip, begitu juga aloo ghobi-nya. Tetapi, mutton qorma-nya wajib mendapat nilai mak nyuss! Daging kambingnya empuk, dengan bumbu yang meresap ke dalam setiap serat dagingnya. Ini pertanda dimasak sempurna, dengan api kecil tetapi waktu memasak yang lama. Beberapa lembar daun kari (salam koja) masih tampak, memberi aroma harum yang membuai. Usapan rasa manis dengan anggunnya meredam rempah kuat sajian ini. (Bondan Winarno)
Little India
Jalan Hanoman
Banjar Padang Tegal
Ubud, Bali
+62361977161
(dev/Odi)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : iklan@detikfood.com ,
telepon 021-7941177 (ext.547 dan 609)
Friday, August 5, 2011
The Little Arab of Cikini
Bondan Winarno - detikFood
Foto: Bondan Winarno Jakarta - Di mana sih Kampung Arab-nya Jakarta? Ternyata, luasnya Jakarta Raya ini membuat satu Kampung Arab saja tidak cukup. Di Jakarta Timur ada kawasan Cawang-Condet yang ramai dihuni kaum jamaah. Di Jakarta Pusat, mereka kebanyakan bermukim di sekitar Tanahabang. Tetapi, sejak lama pula ruas Jalan Raden Saleh di Jakarta Pusat merupakan "pusat" hunian kaum keturunan Arab. Bukankah Raden Saleh sendiri yang dulu mempunyai puri (mansion) di jalan itu adalah juga seorang ningrat dari kalangan ini?
Maka, tidaklah mengherankan bila di sepanjang jalan ini dapat dijumpai beberapa rumah makan dan restoran yang khusus menyajikan masakan Arab. Beberapa nama lama masih bertahan di sini, sekalipun sudah muncul pula restoran baru dengan dekor maupun eksterior yang lebih mewah dan modern.
Favorit saya di sini adalah Rumah Makan Almira. Ini gara-gara dulu saya pernah ditraktir Mas Harun Musawa yang ketika itu memang berkantor di dekat sana juga. Almira adalah sebuah rumah makan sederhana, tetapi dengan citarasa Arabia yang autentik. Saya bahkan pernah membungkus nasi briyani untuk oleh-oleh bagi almarhum Husein Mutahar – pencipta ode "Syukur" dan beberapa lagu nasional lain – yang juga dikenal sebagai seorang lekkerbek (epicurian, pedoyan makan). Seingat saya, komentarnya ketika itu adalah: "Kurang sedikiiiit. Harusnya pakai acar nanas, supaya lebih ng-Arab." Semoga Kak Mut bahagia bersama Allah di surga.
Nasi briyani-nya (Rp 35 ribu) memang istimewa. Sekalipun tidak memakai beras basmati (yang mahal karena harus di-impor), nasi kebuli Almira bumbunya nancep di lidah. Kekuatan Almira memang pada bumbunya yang intens. Kalau tidak salah observasi, rumah makan ini dimiliki oleh keturunan Arab dari Jawa Timur. Karena itu di sini juga ada sop kikil (Rp 35 ribu) yang khas Kampung Ampel – kampungnya kaum keturunan Arab di Surabaya.
Satu porsi nasi briyani disajikan dengan beberapa potong kambing goreng yang juga sangat gurih dan empuk. Kondimennya adalah sambal tomat-seledri dan acar timun-tomat yang bernuansa asam-manis. Top markotop!
Selain nasi briyani yang juara, juga ada nasi bukhari – juga sering disebut sebagai nasi khabsah – yaitu nasi yang dimasak dengan bumbu dan berbasis tomat. Nasi goreng kambingnya juga berkualitas di atas rata-rata nasgorkam favorit Jakarta lainnya. Favorit lain di antara kaum Arab yang menjadi pelanggan rumah makan ini adalah marakh alias sop kambing (Rp 35 ribu) yang dimakan dengan roti hobus.
Sate kambing dan kambing goreng Almira juga dapat diandalkan. Tidak doyan kambing? Rugi besar. Tetapi, oke-lah. Anda juga dapat memesan ayam goreng atau gado-gado di sini. Jangan lupa, minuman pendampingnya yang khas adalah kopi jahe.
Tidak hanya menjual makanan. Di halaman belakang yang menghadap ke Jalan Raden Saleh I, Almira juga menyediakan tempat yang nyaman dan teduh untuk mengisap pipa air (shisha) berbagai citarasa dan aroma. Juga ada sebuah toko kecil yang menjual berbagai suvenir dari Timur Tengah. Bila Anda suka madu Yaman – the best in the world – Anda dapat membeli di sini dengan harga Rp 250 ribu per botol. Saya suka almond disangrai sebentar, kemudian dikucuri sedikit madu Yaman.
Cikini di Gondangdia. Mampir sini, cicipi kebuli Almira!
RM Almira
Jl. Raden Saleh 6B
Jakarta Pusat
021 3161494
(dev/Odi)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.Tutup
You are redirected to Facebook
You are redirected to Facebook
Sending your message
You are redirected to Lintas Berita
Sending your message
Post this to your WordPress blog:
Sending your message
Post this to your Blogger blog:
Sending your message
Sending your message
Share to your Yahoo Mail contacts
Sending your message
Sending your message
Import Your Yahoo Messenger contacts
Share to your Yahoo Messenger contacts
Sending your message
Import Your Google Talk contacts
Share to your Google Talk contacts
Sending your message
Import Your Live Messenger contacts
Share to your Live Messenger contacts
Sending your message
Redaksi: detikfood[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi email : iklan@detikfood.com ,
telepon 021-7941177 (ext.547 dan 609)